Press Release KPU Banyuwangi - Calon Legislatif Tetap 2019

Grid List

Top Stories

Grid List

www.radiovisfm.com – Banyuwangi - DPRD berharap agar eksekutif segera menyelesaikan masalah tidak lolosnya sejumlah bakal calon kepala desa saat tes tulis kemarin, agar polemik tidak lolosnya bakal calon kepala desa ini tidak sampai mengganggu tahapan pilkades serentak di Banyuwangi

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh ketua DPRD Banyuwangi sementara, Made Cahyana Negara pada senin siang usai menemui sejumlah bakal calon kepala desa yang berunjuk rasa di DPRD Banyuwangi.

Made menuturkan, agar polemik tentang seleksi calon kepala desa ini tidak berkepanjangan, Eksekutif selaku panitia seleksi bakal calon kepala desa tingkat kabupaten segera menyelesaikan polemik tersebut dengan baik. Karena dikhawatirkan, polemik ini menjadi bola liar yang berpotensi konflik dimasyarakat jelang digelarnya pemilihan kepala desa serentak awal bulan oktober mendatang.

Sebagai Pimpinan Sementara DPRD Banyuwangi, Made mewacanakan dibentuknya panitia khusus (pansus) untuk menyikapi polemik seleksi Calon Kepala Desa tersebut.

Kalau memang dibutuhkan dan disepakati oleh semua fraksi, pihaknya akan bentuk pansus Pilkades serentak. Karena saat ini, pihaknya sebagai ketua sementara belum bisa membentuk pansus, karena alat kelengkapan dewan belum terbentuk. Dan pembentukan pansus tersebut, baru bisa dilakukan jika alat kelengkapan dewan seperti komisi, banmus dan banggar sudah terbentuk dan pimpinan dewan sudah devinitif.

Terkait tuntutan Bacakades yang meminta transparansi atas lembar jawaban hasil tes tulis, Made berharap agar Pemkab Banyuwangi bisa menyampaikan secara terbuka apa yang menjadi tuntutan tersebut. 

Sebab, jika hal ini dibiarkan dan tidak ada kejelasan, pihaknya khawatir akan berdampak terhadap pelaksanaan Pilkades serentak yang akan diselenggarakan 9 Oktober mendatang.

“ Kita bisa urus setelah alat kelengkapan terbentuk, nanti kalau sudah terbentuk akan kita upayakan, harapan kami eksekutif bantu agar tidak jadi bola liar, sampaikan secara terbuka apa yang menjadi tuntuttan itu “, kata Made.

Pada senin siang, Puluhan Bakal Calon Kepala Desa (Bacakades) yang tidak lolos seleksi menggelar aksi unjuk rasa di Kantor DPRD dan Pemkab Banyuwangi. Mereka mendesak transparansi atas hasil tes tulis Calon Kepala Desa beberapa waktu lalu.

Dalam aksinya, Belasan Bacakades  tersebut minta agar panitia pilkades tingkat kabupaten menyerahkan lembar jawaban mereka saat tes tulis tanggal 29 agustus kemarin. Mereka menilai, pemkab banyuwangi cenderung menutup nutupi hasil tes tulis mereka dan panitia seleksi tidak obyektif dalam menentukan skor nilai hasil ujian, yang menyebabkan mereka tidak lolos. 

Saat menggekar aksi unjuk rasa di gedung DPRD Banyuwangi, belasan Bacakades teraebut diterima oleh ketua DPRD Banyuwangi sementara, Made Cahyana Negara dan calon wakil ketua DPRD Banyuwangi asal Demokrat Michael Edy Hariyanto. Usai menggelar aksi di DPRD, Massa akhirnya melanjutkan aksi ke Kantor Pemkab Banyuwangi untuk meminta pertanggungjawaban Kabag Tata Pemerintahn desa, namun  Sayangnya, Kabag Tata Pemdes Abdul Aziz Hamidi tidak berada di tempat.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Empat Kepala Daerah lintas pulau mengunjungi Kabupaten Banyuwangi untuk saling berbagi pengalaman di dalam mengembangkan daerahnya.

Ke empat bupati tersebut adalah Bupati Tapanuli Selatan Sumatera Selatan, Syahrul M Pasaribu; Bupati Manggarai NTT, Deno Kamelus; Bupati Enrekang Sulawesi Selatan, Muslimin Bando; dan Bupati Konawe Kepulauan Sulawesi Tenggara, Amrullah.

Saat menemui mereka, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku sangat gembira dan ini dianggap sebagai kesempatan pihaknya untuk saling tukar ilmu dan program pembangunan untuk pengembangan daerah.

Selama di Banyuwangi, Bupati Anas mengajak mereka berkeliling menyaksikan sejumlah atraksi seni budaya rangkaian Banyuwangi Festival. Mulai dari Festival Lembah Ijen, Fish Market Festival, hingga tradisi Kebo-keboan Alasmalang.

“Kami sengaja menunjukkan baik peran swasta maupun desa yang sama-sama bergerak memajukan daerah lewat atraksi wisata,” ujar Bupati Anas.

“Bahwa dalam membangun daerah, pemerintah perlu hadir sebagai pendorong untuk kemudian berkolaborasi bareng dengan masyarakat maupun pihak swasta untuk mengembangkan daerah,” imbuhnya.

Bupati Anas lalu mencontohkan Festival Lembah Ijen yang digarap oleh founder Jiwa Jawa Resort juga tradisi Kebo-keboan yang langsung ditangani oleh warga Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh.

Apa yang dilakukan Banyuwangi untuk menarik wisatawan dengan berbagai atraksi seni budaya mendapat apresiasi dari Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul Pasaribu.

Dia mengaku terkesan dengan pertunjukan Meras Gandrung dalam Festival Lembah Ijen yang digelar akhir pecan, 14 September lalu.

“Pertunjukan Meras Gandrung ini bisa jadi sumber inspirasi bagi kami, bagaimana melestarikan budaya lokal dan mengembangkan ekonomi rakyat,” kata Bupati Syahrul.

“Lewat atraksi semacam ini, orang semakin kenal dengan kebudayaan lokal setempat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, empat kepala daerah tersebut juga bersama-sama melakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan Bupati Anas terkait kerjasama pengembangan potensi daerah.

Adapun program inovasi yang akan diadopsi antara lain mal pelayanan publik, e-kinerja, e-village budgeting, e-monitoring system, e-audit, e-planning, perbaikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (SAKIP), pengembangan pariwisata, hingga Sistem Informasi Perencanaan, Penganggaran serta Pengelolaan Keuangan Daerah Terpadu (Simral). 

Bupati Syahrul mengaku ingin mengetahui cara Banyuwangi mendapatkan nilai SAKIP A.

“Saya akan belajar banyak tentang tata kelola pemerintahan, utamanya SAKIP,” ungkapnya.

Padahal menurut Syahrul, laporan keuangan daerahnya sudah mendapat opini WTP lima kali, namun hasil SAKIP-nya belum memuaskan.

“Kedatangan kami ini berangkat dari rasa penasaran, bagaimana Banyuwangi mendapat opini WTP tujuh kali dan SAKIP-nya juga A,” ujar Syahrul.

Sementara itu, Bupati Enrekang, Muslimin Bando mengatakan kunjungannya ke Banyuwagi karena tertarik dengan konsep Mal Pelayanan Publik yang telah didirikan Banyuwangi sejak 2017 lalu.

“Saya ingin membuat hal serupa di Enrekang, karena mall semacam ini terbukti sangat memudahkan warga dalam mengakses pelayanan public,” ungkap Muslimin.

Selain mall pelayanan publik, Muslimin juga ingin belajar pengembangan pariwisata daerah.

“Karena perkembangan wisata Banyuwangi yang ditunjang dari beragam atraksi seni dan tradisi rakyatnya, menjadi media promosi yang ampuh untuk mendatangkan wisatawan ke Banyuwangi dan ini patut dicontoh,” pungkas Bupati Muslimin.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam rangka memperingati HUT Lantas ke 64, jajaran kepolisian Satuan Lalu Lintas Polres Banyuwangi memberikan bunga dan cokelat kepada para pengguna jalan raya.

Kegiatan ini di gelar di jalan Ahmad Yani tepatnya di depan Kantor Pemkab Banyuwangi. Aparat kepolisian menghentikan setiap pengendara kendaraan roda 2 untuk di periksa surat surat kendaraan serta Surat Ijin Mengemudi (SIM) nya.

Dan bagi yang dinyatakan lengkap maka di berikan bunga dan cokelat. Sementara untuk yang tidak lengkap, hanya di berikan himbauan untuk segera mengurus sesuai administrasinya agar tidak dikenakan sangsi tilang.

Kasat Lantas Polres Banyuwangi AKP Am Rido Ariefianto mengatakan, meskipun Operasi Patuh Semeru sudah berakhir pada 11 September 2019 sejak di gelar 29 Agustus lalu, namun kegiatan kepolisian berupa razia kendaraan bermotor akan terus dilakukan utamanya yang dinilai stationer seperti yang dilaksanakan saat ini.

“Untuk razia yang digelar dalam peringatan HUT Lantas ke 64 ini hanya merupakan evaluasi, apakah masyarakat masih tertib berlalu lintas usai Operasi Patuh Semeru digelar ataukah masih banyak pelanggaran,” ujar Kasat Lantas.

“Hasilnya, kami menemukan 2 orang pelanggar kendaraan roda 2 yang tidak membawa SIM. Tapi tidak kami lakukan penindakan tilang dan hanya di berikan himbauan saja,” paparnya.

Kasat Lantas menjelaskan, pembagian cokelat dan bunga ini dinilai sebagai bentuk apresiasi kepolisian kepada para pengendara kendaraan bermotor yang selalu melengkapi dengan surat surat.

“Kami menyiapkan 100 bunga dan 100 cokelat untuk dibagikan kepada pengguna jalan. Kegiatan serupa, tidak hanya di lakukan disatu tempat saja namun berpindah pindah lokasi,” kata AKP Am Rido.

Sementara, untuk HUT Lantas sendiri diperingati setiap 22 September.

Selama kegiatan berlangsung, sempat membuat arus lalu lintas macet. Pasalnya, satu persatu sepeda motor yang melintas di depan Kantor Pemkab Banyuwangi dihentikan oleh aparat kepolisian untuk dilakukan pemeriksaan.

Kasat Lantas menambahkan, selama 14 hari di gelar Operasi Patuh Semeru 2019, tercatat ada 3500 an lebih pelanggaran yang ditangani kepolisian.

“Terbanyak adalah pelanggaran yang dilakukan pengendara sepeda motor, yang tidak membawa STNK maupun SIM,” imbuh Kasat Lantas.

Untuk itulah, Kasat Lantas menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap mematuhi peraturan lalu lintas meski tidak dilakukan kegiatan razia demi keselamatan di jalan raya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sejumlah Bakal Calon Kepala Desa di Banyuwangi yang dinyatakan gagal, melakukan unjuk rasa menuntut agar Panitia Seleksi (Pansel) Kepala Desa untuk menunjukkan hasil tes tulis mereka.

Tercatat ada 4 Bakal Calon Kepala Desa gagal yang berunjuk rasa yakni Bacakades Rejoagung Kecamatan Srono, Sutrisno; Bacakades Sidodadi Kecamatan Wongsorejo, Sudiyono; Bacakades Kedungrejo Kecamatan Muncar, Yuyuk; dan Bacakades Tamanagung Kecamatan Cluring, Khoiri.

Mereka didampingi puluhan massa dari salah satu elemen masyarakat mendatangi gedung DPRD untuk menyampaikan aspirasinya.

Dan Ketua DPRD Made Cahyana Negara bersama beberapa anggota dewan lainnya menemui mereka, diantaranya Michael Edy Harianto, Umi Kulsum, Fathan, Widodo juga Emy.

Dalam kesempatan ini, Made mengaku akan segera memanggil panitia seleksi kepala desa untuk membahas persoalan proses penjaringan bakal calon kepala desa di Banyuwangi. Namun diakui, saat ini belum terbentuk alat kelengkapan DPRD sehingga pembahasan masalah tersebut akan dilakukan lebih lanjut, yang nantinya membentuk Pansus.

 Selanjutnya, massa bergerak menuju ke Kantor Pemkab Banyuwangi dan meminta Bupati Abdullah Azwar Anas untuk mengutus Kabag Tata Kelola Pemerintahan Desa Abdul Azis Hamidi menemui pengunjuk rasa. Karena mereka ingin, pansel menunjukkan hasil tes seleksi tulis secara transparan. Orasi ini disuarakan langsung oleh bacakades Kedungrejo, Yuyuk.

“Kami akan melakukan aksi dengan massa yang lebih banyak lagi, jika tuntutan kami ini tidak dipenuhi,” teriak Yuyuk.

“Saya butuh kepastian bapak. Kami tidak akan anarksi asalkan bupati dan anak buahnya memberikan fasilitas pada kami,” ujarnya.

Selang beberapa lama, 4 bacakades dan beberapa perwakilan massa di temui bagian pemerintah desa untuk berdialog.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Bupati Anas menyatakan bahwa untuk menentukan hasil seleksi tersebut adalah tim panitia seleksi, dalam hal ini adalah Universitas Jember dan ini bukan kewenangan pemerintah daerah.

“Pemkab hanya memfasilitasi untuk berkoordinasi dengan pansel mengenai tuntutan dari bacakades yang tidak lolos tes tulis itu,” ujar Bupati Anas.

Pendaftaran kepala desa serentak di Banyuwangi mulai digelar sejak 29 Juni hingga 7 Juli 2019.

Dan setelah dilakukan verifikasi berkas administrasi pada 8 Juli hingga 27 Juli 2019, maka tercatat ada 634 orang bakal calon kepala desa dari 130 desa di 24 kecamatan.

Selanjutnya di lakukan penelitian ulang pada 16 Juli-21 Juli 2019, rupanya ada 41 desa di 22 kecamatan yang pendaftarnya lebih dari 5 orang sehingga harus menjalani tes tertulis.

Dan tercatat ada 305 bacakades yang mengikuti tes tulis saat itu, 4 diantaranya adalah mereka yang berunjuk rasa tersebut.

Sementara untuk pelaksanaan Pilkades serentak di Banyuwangi digelar pada 9 Oktober 2019 mendatang.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam waktu yang hampir bersamaan, jajaran Satuan Reskrim Polres Banyuwangi berhasil mengungkap 3 kasus pencurian ponsel di 3 lokasi yang berbeda dengan menangkap para pelakunya.

Aksi pertama, Resmob Unit Pidum Satreskrim menangkap Indra Tulentino (35) warga Jalan Pecari nomor 11 RT 02 RW 01 Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri Banyuwangi, setelah di duga melakukan pencurian ponsel jenis Oppo A57 milik Cicik Agustia Ningrum (17) warga Kecamatan Tegaldlimo.

Ceritanya, pada Rabu 6 Maret 2019 lalu, korban bersama dua orang temannya membeli makan di warung Sritanjung kawasan jalan Brawijaya Kelurahan Kebalenan Kecamatan Banyuwangi. Saat memesan makanan, korban meletakkan ponselnya dimeja warung.

Sedianya, makanan tersebut akan dibawanya ke tempat kost. Namun setelah sampai di tempat kostnya, korban baru ingat jika ponselnya tidak ada lalu dia kembali ke warung tersebut. Tapi rupanya, ponsel milik korban sudah raib di bawa kabur pencuri.

Beberapa saat kemudian, korban mencoba menghubungi ponselnya masih aktif tapi tidak diangkat. Selanjutnya, korban melapor ke SPKT Polres Banyuwangi guna proses penyelidikan.

Upaya penyelidikan pun dilakukan kepolisian hingga berhasil menangkap tersangka didalam sebuah rumah di area perumahan Villa Ijen Watubuncul, tidak jauh dari rumahnya.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, dihari yang berbeda, kepolisian juga menangkap Dika Karisma (23) warga Dusun Cangkringan RT 02 RW 01 Desa Pengatigan Kecamatan Rogojampi Banyuwangi. Tersangka terbukti mencuri ponsel Oppo F5 milik Alex Setiawan (35) warga Kecamatan Rogojampi juga.

“Saat itu pada Jum’at 16 Agustus 2019, korban masuk ke dalam ATM di wilayah Rogojampi bermaksud untuk mengambil uang dan dia menaruh ponselnya diatas mesin ATM,” ujar AKP Panji.

Selang 5 menit, korban pergi dan tidak menyadari ponselnya tertinggal di dalam ruangan ATM. Rupanya, tersangka mengetahui ponsel korban dan mengambilnya berniat untuk dipakai sendiri.

“Itu terbukti dari keterangannya saat ditangkap aparat kepolisian di rumahnya,” tutur Kasat Reskrim.

Dia menjelaskan, selang sehari, Resmob Unit Pidek berhasil menangkap Saiful Arifin (43) warga Dusun Gumukrejo RT 01 RW 02 Desa Purwoharjo Kecamatan Purwoharjo, yang diduga kuat telah mencuri ponsel Xiaomy Redmi Note 7 milik Fariza Kurnia (16) masih berstatus sebagai pelajar asal Kecamatan Purwoharjo.

Saat itu Senin 13 Mei 2019, korban bersama temannya datang ke pertokoan mitra Desa Jajag Kecamatan Gambiran untuk bermain game di lantai 3. Dan dia menaruh tasnya di pegangan tempat bermain dalam keadaan tertutup. Sementara korban sendiri membelakangi tasnya tersebut dan menghadap ke layar game.

“Saking asyiknya bermain, korban tidak menyadari tasnya sudah terbuka dan saat di lihat rupanya ponselnya sudah hilang,” kata Kasat Reskrim.

Korban pun melaporkan peristiwa naas yang dialaminya ke pihak kepolisian guna meminta perlindungan hukum. Hingga akhirnya, tim Resmob berhasil membekuk tersangka di rumahnya setelah di lakukan pengembangan penyidikan.

“Kami akui, proses penyidikan ini berlangsung cukup lama karena perlu pengembangan dengan melacak keberadaan ponsel para korban. Seluruh tersangka di tangkap pada pertengahan September 2019 ini,” papar AKP Panji.

Seluruh tersangka beserta barang bukti ponsel milik korban diamankan di Mapolres Banyuwangi. Atas semua perbuatannya, ketiga tersangka di jerat pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Puluhan peserta dari dalam dan luar negeri memeriahkan event Banyuwangi Savana Duathlon di Taman Nasional Alas Purwo, yang merupakan hutan cagar Biosfer Dunia, Minggu (15/9/2019).

Lintasan Duathlon yang menyajikan pesona hutan Cagar Biosfer Dunia ini memberikan kesan istimewa bagi para pesertanya. Pada kompetisi ini para atlet menyusuri rute sejauh 40 kilometer dengan berlari dan bersepeda.

Mereka melintasi jalan aspal yang membelah hutan Alas Purwo hingga trek sempit di antara rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi. Sejuknya hawa hutan, suara kicauan burung hingga putihnya pasir pantai menjadi latar yang makin membuat kompetisi istimewa.

Savana Duathlon ini diikuti oleh 54 peserta dari berbagai kota di Indonesia dan juga dari negara Amerika, Belanda, dan Austria.

Mereka harus menempuh tiga rute. Pertama berlari sejauh 6,4 Km yang dimulai dari Pantai Pancur menuju Pantai Trianggulasi dan kembali ke Pancur. Selanjutnya, mereka bersepeda dari pancur ke Pos Perhutani Rowobendo pp sepanjang 27 KM. Di akhir, mereka kembali berlari sejauh 6,4 KM dengan rute yang sama.

Event Savana Duathlon memang digelar di tempat yang istimewa yakni Taman Nasional Alas Purwo. Taman ini seluas 44.037 hektar dan berstatus sebagai Geopark Nasional dan Cagar Biosfer Dunia.

Disini banyak keindahan yang bisa dinikmati. Di antaranya terdapat keanekaragaman hayati dan budaya, yang terdiri dari 700 flora, 50 jenis mamalia, 320 burung, 15 jenis amfibi, dan 48 jenis reptil. 

Pada event yang pertama kalinya digelar Pemkab Banyuwangi ini, dimenangkan oleh Hari Rochman asal Jakarta.

Personel Komando Pasukan Katak TNI AL yang pemenang pertama Tri Factor Triathlon 2019 di Belitung tersebut, memenangkan pertandingan ini dengan catatan waktu 1 jam 34 menit 20 detik.

Sementara untuk kategori Women Open di menangkan Alicia Derksema, asal Belanda.

“Saya sangat terbantu dengan kondisi lingkungan Alas Purwo. Hawa sejuk yang tercipta dari rerimbunan pohon, disertai limpahan oksigen di hutan paru-paru dunia ini mampu mendorong saya untuk memenangkan pertandingan ini,” papar Hari.

“Dari awal sudah bersaing ketat dengan lawan tapi saya terus memacu stamina supaya lebih cepat,” imbuhnya.

Berlimpahnya oksigen di hutan tersebut dianggap dirinya tidak mudah lelah hingga akhirnya bisa memenangkan lomba ini dengan baik.

Hal yang yang sama juga diungkapkan Alicia Derksema.

“Saya terkesan dengan banyaknya even Banyuwangi yang menyuguhkan keindahan alam,” kata Alicia.

Bahkan Alicia juga mengapresiasi pihak panitia yang bisa mengorganisir kegiatan ini dengan baik sehingga para peserta merasa nyaman mengikuti perlombaan.

“Ditunjang lintasannya sangat bagus, dan juga pemandangannya yang indah,” ungkap Alicia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan kompetisi yang digelar di kawasan hutan Alas Purwo ini menandai dimulainya event daerah yang ramah lingkungan. 

“Kami ingin membuat arena olahraga yang terjaga kondisi lingkungannya,” tutur Bupati Anas.

Menurut Bupati Anas, di tengah hutan Alas Purwo yang udaranya bersih, sejuk dan rindang ini pemkab ingin mengajak semua orang untuk peduli pada lingkungan dan pihaknya ingin memulainya di semua event daerah.

“Salah satunya tidak ada lagi penggunaan plastik sekali pakai. Udara di Hutan Alaspurwo yang bersih dan segar juga harus terus dijaga untuk mempertahankan kealamiannya,” papar Bupati Anas.

Bahkan saat memasuki area hutan, Bupati Anas menggunakan motor listrik yang tidak berpolusi. 

“Saya berharap, ke depan kendaraan ramah lingkungan bisa tersedia di lokasi ini, sementara mobil bisa cukup diparkir diluar gerbang hutan,” tutur Bupati Anas.

Bahkan Bupati Anas berkeinginan, ke depan secara bertahap kendaraan listrik juga menjadi kendaraan operasional pemerintah desa hingga kabupaten.

Sementara itu pemenang kategori usia 40-49 tahun dimenangkan oleh Solihin dengan catatan waktu 1 jam 47 menit 10 detik dan Kategori 50 tahun ke atas dimenangkan oleh Arif Budi Lubis dengan catatan waktu 1 jam 54 menit 37 detik.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Logistik kebutuhan pemilu tiba di Banyuwangi. Logistik awal, KPU Banyuwangi mulai menerima kiriman surat suara untuk kebutuhan pemilu tahun 2019. Sejak hari kamis kemarin, KPUD Banyuwangi sudah menerima 2.375 boks surat suara untuk DPR RI, dari kebutuhan sebanyak 2.688 boks.

Ketua KPU Banyuwangi, Samsul Arifin menuturkan, surat suara yang diterima KPU Banyuwangi, baru surat suara untuk calon legislatif DPR RI. Sedangkan untuk surat suara DPRD Propinsi, DPRD kabupaten, DPD dan Pilpres secara bertahap akan datang sampai  bulan Maret 2019 mendatang. 

Dijelaskan oleh Samsul, surat suara DPR RI yang diterima KPU Banyuwangi masih dalam kondisi tersegel, dan pihaknya langsung melakukan pengecekan untuk memastikan apakah surat suara yang dikirim, jumlahnya sudah sesuai dengan dokumen pengiriman.

Selain datangnya surat suara Pemilu, KPU Banyuwangi juga telah melakukan proses perakitan kotak suara. Jumlah kotak suara yang harus dirakit untuk kebutuhan Pemilu 2019 di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 25.580 kotak suara.

Kotak suara jumlahnya disesuaikan dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara, yakni 5.116 TPS, setiap TPS mendapatkan lima kotak suara dan empat bilik suara. Syamsul menambahkan, Dalam proses perakitan kotak suara tersebut, KPU Banyuwangi melibatkan masyarakat setempat, dan Samsul menargetkan perakitan kotak suara dapat secepatnya diselesaikan. Dari awal bulan Pebruari jumat siang, sudah terakit sebanyak  3.000 lebih kotak suara.

 

 

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi -  DPRD Banyuwangi meminta kepada pemerintah untuk mengganti alat pendeteksi dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang rusak. Ini dilakukan untuk menghindari kehilangan yang lebih lama. Terlebih saat ini, Banyuwangi dianggap sebagai daerah yang rawan bencana tsunami.

 

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara menuturkan, alat pendeteksi dini bencana saat ini sangat penting, terlebih lagi wilayah Banyuwangi memiliki ancaman bencana yang cukup tinggi. Mengingat kata Made, Pemerintah Banyuwangi diharapkan untuk segera menginventarisir alat yang diperlukan untuk penggunaan dini di Banyuwangi.

 

Intinya pemerintah harus tanggap terkait alat-alat yang bisa mencegah bencana jika ada yang rusak. Jika ada yang hilang segera di inventarisir dan segera diganti. Karena hal ini kata Terbuat dari nyawa masyarakat Banyuwangi terjadi kompilasi bencana.

 

Dibeberapa wilayah di Indonesia sudah terjadi tsunami. Bukan tidak mungkin Banyuwangi yang memiliki panjang pantau 175,8 kilometer juga diterjang tsunami. Bagaimana jika Banyuwangi memiliki alat pendeteksi dini bencana, maka potensi bencana yang akan terjadi dapat lebih dini dan dapat meminimalisir korban jiwa yang terkait dengan bencana tersebut.

 

DPRD juga mendesak BPBD segera bergerak untuk berkoordinasi dengan Pemkab Banyuwangi untuk perlindungan seluruh peralatan penanggulangan bencana

 

Made mengaku, pihaknya belum mengecek apakah di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi tahun 2019 ini sudah ada atau belum untuk pembelian alat pendeteksi dini bencana tersebut. Jika belum, pihaknya akan menambahkan anggaran pembelian EWS itu pada APBD perubahan nanti, karena yang terpenting kata Made Banyuwangi harus mempunyai alat pendeteksi dini bencana. 

 

“ Pemerintah harus tanggap terkait alat pendeteksi bencana kalau memang ada yang rusak, karena ini menyangkut nyaa masyarakat Banyuwangi ketika ada korban bencana, dan BPBD segera bergerak koordinasi dengan Pemkab untuk mendeteksi peralatan dan potensi bencana terkait tsunami dan tanah longsor karena sekarang posisi sedang musim hujan deras”, ujarnya.

 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat merilis ada sekitar 45 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, rawan sekali dihantam bencana tsunami. Sebab desa- desa tersebut letaknya berdekatan dengan pantai.

 

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Fajar Suasana, puluhan desa itu diantaranya, Desa Sambimulyo, Temurejo, Pakis, Sobo, Kertosari, Ketapang, Sumberagung, Pesanggaran, Grajagan dan Desa Sumbersewu. 

 

Dari puluhan desa itu, tingkat kerawananya berbeda- beda. Mulai dari tingkat kerawanan tinggi, sedang, hingga ringan. Kata Fajar, untuk desa yang tingkat kerawananya tinggi itu yang letaknya berada di pantai laut lepas, seperti laut Selatan Jawa. Sedangkan yang tingkat kerawanan sedang hingga ringan yang daerah pantainya tidak di laut lepas.

 

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi sendiri merupakan daerah yang paling luas rawan Tsunami di Pulau Jawa. Sehingga untuk mengetahui dini potensi bencana tsunami Banyuwangi sangat membutuhkan alat pendeteksi dini tsunami atau Early Warning System (EWS).

 

Menurut Fajar, alat pendeteksi dini bencana ini, berfungsi selain dapat mendeteksi dini bencana tsunami juga bisa mendeteksi dini bencana banjir bandang, tanah longsor dan bencana Gunung Meletus. Sedangkan Kabuaten Banyuwangi sendiri telah memiliki 7 EWS bantuan dari BNPB. Namun alat tersebut saat ini kondisinya sudah rusak karena komponennya dicuri. 

 

BPBD Banyuwangi saat ini memerlukan EWS milik BMKG Banyuwangi. Untuk itu, BPBD mengharap Pemerintah Banyuwangi tahun 2019 ini memprioritaskan pengadan EWS, sehingga potensi lebih awal yang bisa membuat Banyuwangi berhasil.

radiovisfm.com, Banyuwangi - 3 orang jaringan pengedar Pil Koplo di wilayah Banyuwangi di ringkus aparat Kepolisian, yang salah satunya adalah perempuan. Menariknya, salah satu dari tersangka tersebut kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service.

Mereka adalah Ica Camelia Agustin (19) warga Jalan Karimun Jawa Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi dan kekasihnya, Sugianto (27) warga Dusun Purwosari Desa Tanjungsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, yang selama ini kost di kawasan Jalan Ikan Arwana Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Satu lagi, Indra Wahyu (23) warga Jalan Ikan Wijinongko Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi.

Terungkapnya jaringan peredaran pil koplo ini berawal dari penangkapan Ica Camelia Agustin oleh tim buser Polsekta Banyuwangi, di sebuah warung depan Pabrik Kertas Basuki Rahmat.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, dari tangan gadis belia tersebut di amankan barang bukti 10 butir pil jenis Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 30 ribu hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut.

“Kepada petugas, tersangka mengaku hanya sebagai kurir yang mengantarkan pesanan si pembeli. Sementara pil tersebut di akui adalah milik Sugianto,” papar AKP Ali Masduki.

“Dari keterangan tersangka inilah, aparat kepolisian bergerak cepat menuju ke tempat kos Sugianto hingga berhasil dilakukan penangkapan,” imbuhnya.

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 110 butir obat Trihexyphenidyl.

Bersamaan dengan itu, tiba tiba datang Indra Wahyu ke tempat kost tersangka hendak memasok pil Trihexyphenidyl. Kondisi ini langsung di manfaatkan oleh petugas untuk menangkap Indra Wahyu, yang rupanya membawa 1000 butir pil Trihexyphenidyl.

“Tersangka Indra Wahyu mengaku mendapatkan obat obatan tersebut dari pemasoknya yang berasal dari Jember, tapi tidak diketahui namanya,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya, ketiga tersangka itu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan dihadapan penyidik, tersangka Indra Wahyu mengaku awalnya hanya sebagai pengguna saja. Namun lama kelamaan dia mulai menjadi pengedar dan penyuplai pil koplo karena tergiur dengan keuntungan dari penjualan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service tersebut mengaku sudah mengenal pil Trihexyphenidyl sejak masih duduk di bangku SMA. Dan sebelum ditangkap, setiap hari dia selalu mengkonsumsi pil itu kurang lebih 3 butir, namun di minum satu satu.

“Atas perbuatannya,  ketiga tersangka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap asal Lumajang pemenang Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia, berhasil menjuarai event balap sepeda Chocolate Happy Cycling di Banyuwangi.

Ribuan penggowes MTB (mountain bike) dari berbagai kota di Indonesia ikut menjajal rute jalanan perkebunan kakao, di kawasan wisata Doesoen Kakao di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Minggu (17/02/2019).

Sejumlah pembalap MTB nasional juga turun dalam ajang yang pertama kali digelar ini. Mereka semua ingin menjajal trek sepeda sepanjang 20,4 KM yang membelah perkebunan kakao yang konturnya berbukit. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan pelaksanaan Chocolate Happy Cycling ini sebagai bagian dari sporttourism yang sedang dikembangkan Banyuwangi.

Di Banyuwangi sendiri, terdapat 16 event yang masuk dalam agenda spor tourism,” ungkap Bupati Anas.

“Kategori MTB ini melengkapi event balap sepeda di Banyuwangi yang telah ada. Sport tourism sengaja dipilih oleh Banyuwangi untuk menggenjot segmentasi kunjungan wisatawan,” paparnya.

Berdasarkan hasil riset, sport tourism menjadi penarik minat wisatawan selain budaya dan alam. 

Bupati Anas menjelaskan, dari segmentasi sport tourism ini pemerintah ingin menyasar kalangan milenial, mereka yang hobinya olahraga dan traveling.

Sehingga Banyuwangi mencoba masuk diceruk ini,” pungkasnya.

Kompetisi ini dimenangi oleh pembalap MTB nasional, yakni Zainal Fanani. 

Juara Men Elite Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia ini berhasil menyingkirkan ratusan peserta open race sepeda gunung yang melewati kawasan perkebunan Kendang Lembu, Glenmore milik PTPN XII itu. Pembalap berusia 29 tahun itu, mampu menempuh rute sejauh 20,4 KM dalam waktu 47 menit.

Kelokan, turunan dan tanjakan yang menjadi ciri dari rute off road mampu dilaluinya dengan mudah.

Ia mendahului Angga Dwi Wahyu Prahesta dan Ihza Muhammad yang harus puas finish di urutan kedua dan ketiga.

Keseruan rute juga diakui oleh Linda. Pemenang seri Women Open Chocholate Happy Cycling tersebut, mengaku rutenya ekstream.

“Tapi jalannya cukup lebar sehingga tidak terlalu merepotkan,” ujar Linda.

Linda adalah pebalap asal Samarinda dan merupakan pemegang dua medali emas cabang MTB pada Porprov Kalimantan Timur tahun lalu. Pebalap usia 20 tahun itu, mampu mendahului Bela Anjar Wulan yang finish diurutan kedua.

Chocholate Happy Cycling sendiri tidak hanya terdiri dari kelas open race. Ada beberapa kategori lainnya untuk memeriahkan event yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival tersebut.

Selain kategori open, juga ada Master A untuk pebalap berusia 30 - 39 tahun, Master B untuk usia 40 - 49 tahun, dan Master C untuk usia 50 - 59 tahun. Ada pula kategori happy gowes untuk para pecinta sepeda. 

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, total peserta yang mengikuti event ini sejumlah 1386 peserta. Mereka tidak hanya dari Banyuwangi.

“Tapi juga datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali hingga Kalimantan. Bahkan juga ada peserta difabel, Mudiono pebalap asal Lumajang,” papar Wawan.

Event ini merupakan rangkaian chocolate festival di Banyuwangi yang di gelar selama dua hari (16-17 Februari), di kawasan Doesoen Kakao, yang sebelumnya juga di laksanakan Chocolate Glenmore Run dan Chocolate Jazz and Food Festival.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tiga pelari asal Kenya mendominasi juara pada lomba lari Chocolate Glenmore Run 2019 yang di gelar di kawasan perkebunan Kakao Kendeng Lembu Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019).

Sebut saja Thomas Kipkor Maritim, menjadi yang tercepat dalam kategori 10 KM putra dengan catatan waktu 32 menit 42 detik. Disusul Hillary Kipkering di urutan kedua dengan catatan waktu 32 menit 47 detik. Dan posisi ketiga di raih Sutikno pelari asal Lumajang yang berhasil mencatat waktu 35 menit 51 detik.

Untuk di kategori 10 KM putri, juga di raih pelari asal Kenya, Daisy Cherono dengan catatan waktu 45 menit 39 detik. Urutan kedua Ilmi, pelari asal Lumajang yang mencetak 51 menit 38 detik serta posisi ketiga pelari asal Magelang, Waliyanti dengan catatan waktu 52 menit 23 detik.

“Saya sangat senang mengikuti kompetisi yang diikuti ribuan pelari dari nusantara ini karena menyuguhkan trek yang cukup menantang,” ungkap Thomas.

“Melewati perkebunan kakao yang berbukit, menembus hutan kecil, dan jalanannya berbatu,” imbuhnya.

Selain itu, Thomas juga mengaku sangat menikmati lomba ini. Lingkungan serta hawa sejuk di area perkebunan menjadi daya tarik tersendiri selama melalui rute tersebut. 

“Meski rutenya menantang tapi jadi menarik karena udaranya sejuk dan lingkungan nya bersih. Terutama pemandangannya sangat menarik,” kata Thomas.

Sementara itu, pemenang 10KM putri Daisy Cherono mengungkapkan bahwa lingkungan yang sejuk membantu dia melewati lomba ini dengan baik. 

“Dari awal start sampai garis finish, saya konsisten tetap berlari. Hawa yang sejuk juga pemandangan sangat indah memudahkan dirinya untuk menyelesaikan lomba,” papar Daisy.

Dia mengaku baru pertama kali ikut lomba lari di Banyuwangi.

“Ini jadi ajang saya untuk menguji speed, karena pada 24 Februari mendatang akan ikut lomba di Malaysia,” ujar Daisy.

Sementara itu, untuk pemenang pada kategori 5 KM didominasi oleh peserta dari luar daerah. Seperti kategori SMA putra diraih oleh Ardi Wirayuda dari SMAN Madinatul Ulum Jombang dan Kategori Putri diraih Ernovyan dari SMAN 2 Genteng Banyuwangi. 

Sedangkan kategori SMP putri dimenangkan oleh Eva Yunita (15) dari SMPN 1 Rowo Kangkung Lumajang, untuk putra diraih Dandi Sampurna (15) SMPN 1 Gambiran Banyuwangi.

Kategori SD Putri diraih Siti Wulandari (9) dari SD Curah Poh 2 Bondowoso dan SD putra diraih Krisna dari MI Islamiah Glenmore, Banyuwangi.

Ajang Chocolate Glenmore Run ini dimulai tepat pukul 06.30 WIB di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Event lari yang dibuka oleh Menteri BUMN Rini Soemarno ini melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer dan diikuti lebih dari 2.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, juga manca negara. 

Para peserta diajak menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari juga bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat. 

Sementara pada Minggu (17/2/2019) akan digelar lomba balap sepeda Chocolate Happy Cycling. Di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama, yaitu di Doesoen Kakao. Untuk memeriahkan aksi lari dan bersepeda ini digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di kawasan yang sama selama dua hari, 16 - 17 Februari.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah melepas ribuan peserta Chocolate Glenmore Run di lokasi wisata Doesoen Kakao Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019), Menteri BUMN Rini Soemarno ikut serta berlari sejauh 5 KM.

Dari data yang ada, sekitar 2.000 an peserta dari dalam dan luar negeri mengikuti event yang baru pertama kali di gelar, dan masuk dalam salah satu rangkaian Banyuwangi Festival 2019 tersebut.

Menteri Rini pun ikut berlari bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kapolres AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi dan para Bos Bank BUMN menyusuri belantara perkebunan kakao yang merupakan bahan baku cokelat.

Lomba lari ini menyuguhkan trek perkebunan di Perkebunan Kendenglembu. Para peserta melintasi perkebunan kakao dan karet di sepanjang rute. Dari perkebunan di Glenmore itulah, kakao diekspor ke berbagai belahan dunia menjadi cokelat terbaik. 

Bos-bos BUMN pun terlihat menikmati suasana yang sejuk dengan berlari kecil mengiringi ayunan kaki Menteri Rini.

Tampak hadir Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, Dirut Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmojo, Dirut BRI Suprajarto, Dirut BTN Maryono, Dirut Perhutani Denaldy Maunda, dan para direksi BUMN perkebunan. Hadir pula Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro dan sejumlah deputi menteri.

Menteri Rini mengaku senang bisa berlari ditengah perkebunan dengan udaranya yang sejuk.

“Ini adalah ajang sport tourism yang sangat potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.

Menteri Rini dan bos-bos BUMN papan atas Indonesia itu tertawa lepas saat sepatunya basah kuyup saat melintasi sungai kecil di tengah perkebunan.

Meski terus berlari dan basah oleh air, Menteri Rini tetap semringah. Tangannya terus melambai dan bibirnya selalu tersenyum. Beberapa kali dia melepas topi dan mengelap peluh yang menetes di dahinya.

“Kementerian BUMN sangat mendukung program ini sekaligus ingin mendukung Banyuwangi semakin cantik dan terkenal sebagai destinasi wisata nasional maupun internasional,” papar Menteri Rini dalam sambutan singkatnya.

Menurut Menteri Rini, di Kecamatan Glenmore ini pemandangannya sangat indah, dan mempunyai keterikatan kuat dengan dunia karena cokelatnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Sementara itu, Bupati Anas menyatakan, kolaborasi dengan BUMN dinilai memungkinkan ada akselerasi dalam pembangunan daerah.

“Pemerintahan Jokowi memang mendesain BUMN sebagai agen pemerataan dan pemercepat pembangunan,” ungkap Bupati Anas.

Dia bersyukur Banyuwangi bisa terus memperkuat kolaborasi dengan banyak BUMN, termasuk untuk memajukan pariwisata.

“Dulu di zaman sebelum kemerdekaan, daerah Glenmore adalah favorit Belanda. Saat ini aspek historis itu mampu menarik wisatawan untuk datang,” papar Bupati Anas.

“Melalui event ini, Pemkab Banyuwangi ingin mengenalkan salah satu kakao terbaik dunia. Wisatawan juga bisa menikmati cokelat terbaik yang telah dihasilkan di negeri ini,” pungkasnya.

Doesoen Kakao sendiri adalah kawasan wisata yang menjual eksotika perkebunan kakao lengkap dengan pengolahan cokelat yang berlokasi di Perkebunan Kendeng Lembu, Glenmore, Banyuwangi.

Dengan hawa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi, kualitas cokelat terbaik, dan aspek historis, Glenmore menjadi favorit wisatawan terutama dari Eropa.

Perkebunan kakao di Glenmore ini telah dikenal sebagai penghasil kakao untuk bahan coklat terbaik di dunia. Kakao Glenmore telah banyak diekspor ke Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama dua hari, 16 - 17 Februari, di Doesoen Kakao Banyuwangi akan digelar Chocolate Glenmore Run, Chocolate Happy Cycling, dan Chocolate Jazz and Food Festival. Menteri BUMN Rini Soemarno akan membuka Chocolate Glenmore Run, sebagai event pembuka, Sabtu (16 Februari).

Dikatakan Djuang Pribadi, Kabag Humas Setda Banyuwangi Menteri Rini akan hadir dalam kompetisi lari yang menyuguhkan trek perkebunan kakao di kawasan Glenmore Banywuangi.

"Bu Menteri Rini yang didampingi sejumlah pejabat BUMN akan hadir dalam Chocolate Glenmore Run, bahkan rencananya beliau akan ikut berlari bersama peserta," kata Djuang.

Event lari tersebut akan dimulai pukul 06.00 di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi menambahkan kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer.

Kompetisi lari tersebut akan diikuti 1.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan terdapat dua pelari asing asal Kenya yang turut bertanding dalam kompetisi ini.

"Para peserta akan menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari dan pesepeda bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat," kata Wawan.

Hari berkutnya, Minggu (17 Februari) akan digelar Chocolate Happy Cycling, di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama,  yaiu di Doesoen Kakao.

“Lintasan yang akan dilalui peserta 80 persen offroad. Setelah melewati jalur mulus di jalan lintas selatan, mereka akan memasuki jalanan terjal dan berbatu di pinggiran perkebunan cokelat yang rimbun,” ujar Wawan.

“Tantangan akan semakin berat pada 2 kilometer terakhir saat peserta harus menaklukkan rute menanjak dan beraspal yang licin,” imbuhnya.

Ajang ini terdiri atas 2 kategori lomba, yakni Racing (kompetisi) dan Gowes Happy. Untuk Racing, dibagi menjadi 4 kelompok, yakni  open (semua usia), Master A (usia 30-39 tahun), Master B (40-49 tahun), dan master C (50 tahun ke atas). Sementara Gowes Happy terbuka untuk segala usia.  

Sementara, untuk memeriahkan aksi lari dan sepeda tersebut digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di area setempat selama dua hari, 16 - 17 Februari.

"Pastinya ini akan menjadi pengalaman yang unik menikmati musik jazz sembari menyesap kelezatan coklat tepat di tengah-tengah perkebunannya. Apalagi Glenmore merupakan kawasan perkebunan yang sejuk," pungkas Wawan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim Jelajah Sepeda Nusantara (JSN) 2018 diberangkatkan dari Banyuwangi, Rabu pagi (7/11). Banyuwangi menjadi kota pertama di Pulau Jawa yang menjadi titik pemberangkatan rombongan pesepeda ini. Belasan pesepeda tersebut dilepas  Asisten Perekonomian dan Kesra, Iskandar Azis didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Wawan Yadmadi dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jember yang menjadi rute berikutnya. Saat melepas rombongan, Iskandar Azis mengucapkan terima kasihnya kepada mereka yang telah berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, apa yang dilakukan Banyuwangi selama ini khususnya terkait pengembangan sport tourism dengan mengenalkan titik-titik wisata baru dinilai sudah sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Rombongan ini telah tiba di Banyuwangi pada Selasa malam (6/11) setelah mereka menyelesaikan rute bersepedanya di Pulau Dewata-Bali.

Dikatakan Staf di Asisten Deputi Olahraga Rekreasi, Deputi Pemberdayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agus Santoso yang mengawal tim JSN, tim ini start sejak 30 Juni 2018 dari pos lintas batas negara yang ada di Entikong, Kalimantan Barat. Dari situ mereka menjelajah seluruh Kalimantan, yakni mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Kemudian menjelajah seluruh Sulawesi, baru kemudian menyeberang ke Bali, dan tiba di Banyuwangi selasa malam. Agus menambahkan, tidak hanya sekedar bersepeda, para peserta juga bisa sekaligus menikmati keindahan destinasi wisata yang mereka lalui di sepanjang rute. Walau hanya berhenti selama beberapa saat sambil mengambil foto atau pun menikmati kuliner di tempat tersebut.

Tim JSN ini, imbuh Agus, dijadwalkan  menempuh jarak total sejauh 6700 kilometer dengan melintasi 4 pulau yakni Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa. Dan akan finish di Yogyakarta pada 18 November. Ketika mereka tiba di Banyuwangi, total 6200 km telah ditempuh. Sebelumnya mereka sempat jeda sejenak saat Asian Games dan Asian Paragames digelar. Pesertanya yang terdiri dari 15 atlet itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Ada 7 atlet laki-laki dan 8 perempuan. Agus menjelaskan, mereka merupakan atlet pilihan yang sudah menjalani seleksi dari Kemenpora. Dari segi usia, ada yang tua dan ada yang muda. Tertua 56 tahun dan yang termuda 18 tahun. Tujuan perbedaan usia itu sebagai penyeimbang dari tim. Yang tua menyemangati yang muda, dan sebaliknya. Misi JSN ini sendiri kata Agus, untuk mengkampanyekan olahraga. Namun bukan hanya dengan bersepeda, melainkan untuk semua cabang olahraga. Kebetulan saja pihaknya menggunakan sepeda, dengan asumsi bahwa sepeda itu alat olahraga yang terjangkau berbagai kalangan, bisa digunakan oleh siapa pun, baik tua maupun muda, dan tidak ada orang yang bersepeda yang hatinya tidak gembira. Intinya menurut Agus, pihaknya ingin mengkampanyekan dengan olahraga bisa sehat. Dengan sehat masyarakat bisa bergerak dan melakukan apa saja.

Salah satu atlet yang menjadi peserta JSN ini, Rendra Bayu mengaku sangat excited setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Banyuwangi dan selalu kangen dengan nasi tempongnya. Menariknya, Rendra pernah tercatat sebagai peserta International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selama 4 kali, yakni di 2013, 2015, 2016 dan 2018. Rendra menjelaskan, JSN ini berbeda dengan ITdBI. Jika di ITdBI dirinya full kompetisi, kalau di sini lebih pada mempromosikan olahraga terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota yang disinggahi.

Selama perjalanan, menurut Rendra, seluruh anggota tim sangat support satu sama lain. Hampir tak ada kendala berarti yang mereka temui. Kesulitan sempat mereka temui saat melintasi Kalimantan, ada beberapa wilayahnya yang belum diaspal. Juga di Sulawesi yang jalanannya sudah bagus, tapi jarak rumah antar satu penduduk dengan penduduk lainnya agak jarang. Sedangkan di Pulau Jawa ini dinilai cukup banyak tanjakan, diantaranya tanjakan Gunung Kumitir dan Bromo. JSN ini digelar untuk kedua kalinya. Jika di tahun ini diberi nama Jelajah Sepeda Nusantara, di tahun 2017 lalu dikenal dengan nama Gowes Touring Pesona Nusantara dengan menempuh daerah Sabang - Magelang. Dalam 1 hari, rata-rata pesepeda ini mengayuh sejauh 100 – 130 km per hari, start pada pukul 07.00 hingga finish pada pukul 17.00 WIB. Dan sejak awal penyelenggaraan, event ini dinyatakan sebagai event yang zero accident.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement